Di tengah dinamika kehidupan perkuliahan yang semakin kompleks, mahasiswa kini tidak hanya berfokus pada akademik, tetapi juga mulai menjalani side hustle atau pekerjaan part-time. Fenomena ini semakin marak terjadi di kalangan mahasiswa, baik sebagai bentuk pemenuhan kebutuhan finansial maupun sebagai bagian dari gaya hidup.
Side hustle atau part-time merupakan pekerjaan sampingan yang dilakukan di luar aktivitas utama, yaitu kuliah. Biasanya pekerjaan ini memiliki waktu yang fleksibel, seperti di akhir pekan atau beberapa jam dalam sehari. Namun, dalam praktiknya, mahasiswa tetap harus mampu membagi waktu antara kuliah, pekerjaan, dan kehidupan pribadi.

Tempat part-time mahasiswa di jalan Tuparev (Tujuh Pahlawan Revolusi), Jumat (12/9/2025).
Fenomena ini dialami oleh Hanna, mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum. Ia mengungkapkan bahwa awal mula dirinya menjalani part-time hanya untuk mengisi waktu luang.
“Yang pertama tuh buat ngisi waktu luang sama nambah-nambah uang jajan aja sih karena waktu lagi libur juga,” ungkapnya saat diwawancarai secara online melalui Zoom, Rabu (1/4/2026).
Namun, ketika pekerjaan tersebut berlanjut hingga masa kuliah aktif, ia mulai merasakan tantangan dalam membagi waktu.
“Tantangannya itu salah satunya aku part-time kehitung lama ya, dari libur kuliah sampai masuk itu aku masih part-time. Jadi ngerasanya tuh pas waktu awal-awal masuk kuliah apa, ya? Susah ngebagi waktu dan capeknya tuh dua kali lipat gitu, udah capek sama tugas dan kuliah segala macam, masih harus kerja gitu di weekend,” jelasnya.
Dalam kesehariannya, Hanna mengatur waktu kuliah dan kerja dengan sistem tertentu, meskipun tetap merasakan kelelahan.
“Aku tuh part-time yang di hari libur ya, aku kuliah dari Senin sampai Kamis, tapi Jumat Sabtunya aku kerja. Jadi masih ada waktu di hari Minggu aku istirahat, tapi kadang aku emang full istirahat, kadang enggak, kan. Waktunya juga kan sambil kuliah jadi kadang aku pake waktu itu tuh buat nugas, jadi emang agak sempat burn out aja gitu buat aku pas waktu awal-awal kuliah. Tapi Alhamdulillahnya masih bisa aman sih buat kebagi.”

Kegiatan mahasiswa pada saat part-time di FnB (Food and Beverage), Jumat (27/9/2025).
Ia juga mengakui bahwa aktivitas tersebut memengaruhi kondisi fisiknya saat mengikuti perkuliahan.
“Kerja sambil kuliah capek gitu jadi rada ngaruh pas waktu aku lagi di kelas, jadi kayak aku tuh lemas mulu di kelas capek rasanya ngantuk pengen tidur gitu-gitu terus. Terus kuliah kan empat hari full, terus Jumatnya aku langsung kerja lagi dan kayak rasanya enggak ada istirahat aja gitu walaupun Minggunya aku bisa istirahat kadang aku pakai hari itu buat nugas, jadi bisa apa ya, itu pelan-pelan burn out aja gitu buat aku,” tegasnya.
Meski demikian, Hanna tetap memandang fenomena ini sebagai sesuatu yang positif bagi mahasiswa.
“Kalau dari aku pribadi mahasiswa-mahasiswa yang ngambil part-time tuh bagus, mereka kayak cari bahasa simpelnya lapangan pekerjaan yang lebih luas, tapi kalau udah dapat pengalaman-pengalaman pas waktu kuliah gitu kayak misalnya aku nih udah part-time di FnB selama ini, selama tiga bulanan itu pas waktu nanti turun ke dunia kerja yang asli gitu setelah lulus kuliah itu bisa jadi poin plus pas waktu nanti interview atau enggak buat CV (Curriculum Vitae) gitu. Dan mahasiswa-mahasiswa yang emang berani ngambil part-time buat ngisi waktu luang atau buat emang kebutuhan dia sehari-hari itu udah keren banget sih, jarang aja gitu mahasiswa yang mau ngambil part-time, soalnya emang beberapa yang aku tahu gitu ya, ada beberapa mahasiswa yang gengsi ngambil part-time karena ngerasa masih kuliah ngapain ngambil part-time gitu, ada teman-teman aku yang pikir kayak gitu, tapi ya apa salahnya gitu kan buat nyari uang dengan diri sendiri walaupun masih kuliah, kayak enggak selalu minta uang ke orang tua kayak gitu,” tutur Hanna.
Sementara itu, Amar Muhtadar, mahasiswa Program Studi Teknik Elektro, memiliki alasan yang berbeda dalam memilih untuk bekerja sambil kuliah. Keputusan tersebut didorong oleh kondisi keluarga yang mengharuskannya untuk mandiri.
“Kalau ditanya kenapa saya milih part-time itu tuh, dari keluarga. Jadi enggak lama ini mama sama bapak saya baru meninggal. Jadi saya mikir kayak harus nyari tambahan lagi nih, enggak bisa ngandalin dari uang orang tua. Makanya saya ambil part-time di street coffee,” jelas Amar saat diwawancarai secara online melalui Zoom, Kamis (2/6/2026).

Potret mahasiswa yang sedang kerja part-time di street coffee, Rabu (1/4/2026).
Menurutnya, fenomena mahasiswa yang bekerja sambil kuliah saat ini banyak dipengaruhi oleh faktor ekonomi.
“Ya, mungkin kenapa banyak sekarang tuh yang ambil kuliah sambil kerja, mungkin dari ekonomi paling, ya. Kebanyakan ekonomi sih, dari keluarga mereka seperti saya kan yang orang tuanya udah meninggal jadi harus cari uang sendiri,” ucap Amar.
Dalam menjalani dua peran tersebut, Amar menghadapi tantangan utama dalam pembagian waktu.
“Untuk tantangan utama ya, mungkin lebih di segi waktu sih. Jadi kita susah kayak ngebagi waktu jam kerja buat kita istirahat juga kan, habis itu saya kerja, paginya harus kuliah. Jadi buat jam istirahat sama jam, apa ya, waktu buat ngerjain tugas lah. Mungkin tantangan utamanya di situ,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bagaimana rutinitas hariannya berjalan, yang membuat waktu istirahatnya berkurang.
“Sebenarnya pembagian waktu saya itu kurang efektif, ya. Jadi dari jam 8 saya berangkat kerja, pulang kerja jam 3, dan sisa waktu istirahat saya itu sama dari jam pulang kerja itu sampai jam kuliah. Mungkin kan kadang jam kuliah enggak tentu ya, ada yang jam setengah 8, ada yang siang, ada yang sore. Jadi sisa waktu saya istirahat mungkin dari pulang kerja sampai masuk kuliah. Nah, untuk mengerjakan tugas terkadang saya ngerjain di tempat kerjaan, atau mungkin sebelum berangkat kerja saya ngerjain. Jadi yang terpotong tuh waktu istirahat saya,” jelas Amar.
Meski begitu, Amar tetap merasa mendapatkan pengalaman berharga dari pekerjaannya.
“Untuk pengalaman berkesan ya, jadi kita bisa tahu cara bikin kopi, dari pengolahan biji kopinya itu bagaimana, dan untuk menciptakan rasa kopi itu yang enak tuh seperti apa.”
Fenomena mahasiswa yang menjalani part-time ini menunjukkan bahwa terdapat dua kecenderungan utama, yaitu kebutuhan dan gaya hidup. Di satu sisi, pekerjaan menjadi tuntutan untuk bertahan secara finansial. Di sisi lain, part-time juga menjadi sarana untuk mencari pengalaman dan meningkatkan kemandirian.
Hanna juga memberikan pesan bagi mahasiswa yang ingin mencoba part-time agar tetap selektif dalam memilih pekerjaan dan mampu memanfaatkan waktu dengan baik.
“Buat teman-teman yang emang mau nyari part-time atau baru mau terjun ke part-time gitu menurut aku lebih baik di FnB aja sih, tapi nyarinya yang lebih prospek gitu loh, kayak mereka tuh udah nyantumin emang cuman empat jam kerja atau kurang, pokoknya kurang dari delapan jam kerja itu part-time kan syaratnya. Kalau udah kayak gitu bolehlah kayak nyoba-nyoba buat ngisi waktu luang, kayak misalnya lagi libur kuliah atau emang kamu lagi ada kebutuhan-kebutuhan lain yang kurang dari uang jajan kamu gitu, itu enggak apa-apa banget buat nyoba-nyoba part-time, nyari-nyari kayak relasi atau enggak pengalaman-pengalaman baru, udah oke banget sih buat mahasiswa-mahasiswa yang niat nyari pengalaman duluan gitu. Semangat-semangat aja deh buat mahasiswa-mahasiswa yang lagi part-time atau yang mau part-time gitu,” pungkasnya.
Fenomena mahasiswa yang menjalani part-time pada akhirnya tidak bisa dilihat dari satu sisi saja. Di balik pilihan tersebut, ada yang berangkat dari kebutuhan, ada pula yang didorong keinginan untuk berkembang. Pengalaman yang dijalani pun menunjukkan bahwa di balik fleksibilitas yang ditawarkan, tetap ada konsekuensi yang harus dihadapi, mulai dari kelelahan, keterbatasan waktu, hingga tuntutan untuk tetap menjaga keseimbangan antara kuliah dan kerja.
Penulis: KHY, WTS