Balap lari terlihat di sekitar Stadion Singaperbangsa Karawang, Sabtu (14/3/2026). Kegiatan balap lari yang berlangsung selama bulan Ramadan kini semakin marak diikuti oleh khalayak umum, termasuk mahasiswa. Aktivitas ini umumnya dilakukan pada malam hari hingga menjelang sahur, dengan memanfaatkan jalanan yang relatif sepi atau area terbuka sebagai lintasan. Selain menjadi sarana olahraga untuk menjaga kebugaran tubuh selama berpuasa, kegiatan ini juga dimanfaatkan sebagai ajang silaturahmi dan hiburan. 

 

Mahasiswa Pendidikan Masyarakat (Penmas), Surya, mengatakan bahwa balap lari ini sudah menjadi agenda tahunan yang selalu diselenggarakan di Karawang. Tidak hanya itu, balap lari ini juga diselenggarakan di daerah luar Karawang.

 

“Menurut aku, balap lari malam ini bisa dibilang agenda tahunan. Mungkin bukan cuma di Karawang doang, secara regional di daerah-daerah luar Karawang pun banyak gitu loh balap-balap lari. Dan di Karawang ini salah satunya emang jadi agenda tahunan di setiap bulan puasa,” ujarnya saat diwawancarai langsung, Sabtu (14/3/2026).

 

Ia menambahkan bahwa balap lari ini adalah transisi dari kegiatan negatif menjadi kegiatan positif selama bulan Ramadan. Ia juga menilai balap lari ini bisa menjadi ajang unjuk kemampuan bagi mereka yang memang memiliki kecakapan dalam lari.

 

Nah, kalau menurut aku sendiri balap lari ini sebenarnya udah lumayan bagus gitu loh. Karena transisi dari kegiatan-kegiatan yang mungkin bisa dibilang agak negatif menjadi yang lebih positif gitu. Karena bahasanya di sini balap lari ya kita bener-bener menjunjung tinggi sportifitas, bener-bener ngelihat bagaimana kemampuan kita, kecakapan kita dalam lari,” tambahnya.

 

Peserta balap lari pada saat lari, Sabtu, (14/3/2026).

 

Sementara itu, fenomena balap lari malam juga menarik perhatian mahasiswa lain, salah satunya mahasiswa Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi (PJKR), Kidoy, yang turut terlibat langsung sebagai pelari atau joki dalam ajang tersebut.

 

Kidoy mengungkapkan telah beberapa kali mengikuti balap lari selama bulan Ramadan. Dalam perannya, ia tidak hanya menjadi pelari yang bertanding, tetapi juga terlibat dalam mencari lawan untuk bertanding di beberapa kesempatan.

 

“Sebagai jokinya lah, sebagai pelari. Kebetulan ini baru lepas juga, gue dua kali main. Kalau di sini gue jadi joki, tapi kalau di tempat rumah gue, lebih ke nyari-nyari lawan gitu,” ungkapnya saat diwawancarai langsung, Sabtu (14/3/2026).

 

Ia menambahkan bahwa awal mula dirinya mengetahui tren balap lari ini berasal dari media sosial yang saat ini ramai membicarakan aktivitas tersebut.

 

“Tahunya dari TikTok sih, sama Instagram. Lagi ramai banget di sana,” tambahnya.

 

Anak kecil penonton balap lari, Sabtu, (14/3/2026).

 

Dengan semakin banyaknya partisipasi dari berbagai masyarakat, khususnya kalangan muda, balap lari malam di bulan Ramadan kini tidak hanya menjadi tren musiman, tetapi juga berkembang sebagai aktivitas sosial yang mempererat kebersamaan di tengah masyarakat.

 

RVM, GHI