Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika) resmi menjalankan Program Mobilitas Mahasiswa Internasional Unsika–WHVCSE 2026 yang bekerja sama dengan Wuhan Vocational College of Software and Engineering (WHVCSE), Tiongkok. Program ini menjadi bagian dari upaya internasionalisasi kampus serta penguatan kompetensi mahasiswa melalui pengalaman belajar langsung di luar negeri.

 

Program tersebut berada di bawah koordinasi International Relation Office (IRO) Unsika dan melibatkan dua fakultas, yakni Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) dan Fakultas Teknik (FT). Sebanyak lima belas mahasiswa terpilih akan mengikuti program ini yang terdiri dari tujuh mahasiswa FT dan delapan mahasiswa Fasilkom. 

 

Kepala IRO Unsika, Ikhwanussafa Sadidan, menjelaskan tujuan program untuk memperkuat skill mahasiswa dan mendapatkan berbagai pelatihan seperti Artificial Intelligence (AI), Intelligent Manufacture (IM), dan Programming Logic Control (PLC).

 

“Jadi mahasiswa akan mendapatkan berbagai pelatihan seperti Artificial Intelligence, kemudian juga Intelligent Manufacture, kemudian ada PLC atau Programming Logic Control, kemudian ada juga mereka belajarlah tentang budaya dan bahasa Cina atau Mandarin. Untuk memperkuat skill dari mahasiswa, nah kita memberikan kesempatan untuk kuliah atau internasional sehingga mereka bisa langsung mempraktikkan ilmunya dengan teknologi dan alat yang ada di kampus tersebut,” jelasnya saat diwawancarai langsung, Selasa (3/2/2026).

 

Ikhwanussafa juga menambahkan bahwa seleksi peserta telah dimulai sejak Desember 2025 melalui dua tahap, yaitu seleksi administrasi dan wawancara. Mahasiswa yang lolos seleksi akan mengikuti kegiatan akademik dan pelatihan selama tiga bulan di Cina sebagai bagian dari program mobilitas internasional. 

 

“Seleksi sebetulnya sudah dimulai dari bulan Desember. Itu ada seleksi administrasi terlebih dahulu. Nah syaratnya adalah mahasiswa yang bisa ikut itu terdaftar di Fakultas Teknik dan Fakultas Ilmu Komputer. Karena memang dari kampus Tiongkok pun meminta untuk mahasiswa yang sudah memiliki basic. Jadi minimalnya itu adalah mereka sudah ada di semester 4. Kemudian juga minimal IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) itu 3 dan mahasiswa juga harus terdaftar sebagai mahasiswa aktif. Jadi kalau misalkan lagi cuti itu tidak bisa. Kemudian yang menjadi seleksi juga adalah kemampuan bahasa Inggris dari mahasiswa. Untuk mandarin tidak disyaratkan, tetapi selama 3 bulan di Tiongkok mereka akan belajar bahasa mandarin,” tambahnya.

 

Potret sesi wawancara bersama calon mahasiswa terpilih, Kamis (7/1/2026).

 

Begitu pula, Dekan Fasilkom Unsika, Oman Komarudin, memaparkan bahwa penyelenggaraan Program Mobilitas Mahasiswa Internasional Unsika–WHVCSE 2026 merupakan bagian dari Fasilkom Unsika dalam meningkatkan kualitas lulusan agar memiliki kompetensi sesuai bidang keilmuannya serta mampu bersaing ditingkat global. Menurutnya, internasionalisasi menjadi salah satu target utama yang terus didorong oleh fakultas dalam beberapa tahun terakhir.

 

“Tujuan kita adalah bagaimana caranya agar outcome kita, lulusan kita itu berdaya, memiliki kompetensi sesuai dengan bidangnya, dan berdaya saing di luar. Dan target di tahun ini kita internasionalisasi salah satunya,” paparnya saat diwawancarai secara langsung, Selasa (3/2/2026).

 

Sejalan dengan hal tersebut, Oman menegaskan pengalaman belajar di luar negeri menjadi nilai penting bagi mahasiswa, terutama untuk memperluas wawasan akademik dan meningkatkan pemahaman terhadap penerapan teknologi secara langsung melalui fasilitas dan sistem pembelajaran di kampus mitra.

 

“Yang paling utama adalah mahasiswa memiliki pengalaman. Kalau belajar di kelas di sini aja, dengan fasilitas yang ada di sini ajaitu kan sayang. Kalau kita mendapatkan fasilitas di luar sana, pengalamannya, pengalaman internasional, pengalaman di kampus luar yang reputasi lebih tinggi dari dengan kita gitu ya, itu kan pengalaman akan lebih lebih besar gitu, jadi pengalaman belajar mahasiswa akan lebih banyak,” tegasnya.

 

Oman menerangkan bahwa Peserta Program Mobilitas Mahasiswa Internasional Unsika–WHVCSE 2026 dijadwalkan berangkat ke Tiongkok pada April 2026 dan akan menjalani kegiatan akademik serta pelatihan selama sekitar lima hingga enam bulan di kampus mitra.

 

“Kalau keberangkatan nanti bulan April. Jadi April berangkat, Mei, Juni, Juli, selama lima sampai enam bulan itu ada di sana nanti,” terangnya.

 

Salah satu mahasiswa yang terpilih, Alia Hamzah, menuturkan bahwa keikutsertaannya dalam Program Mobilitas Mahasiswa Internasional UNSIKA–WHVCSE 2026 didorong oleh keinginannya untuk mendapatkan pengalaman akademik berskala Internasional. Menurutnya, kesempatan belajar langsung di luar negeri menjadi nilai tambah bagi mahasiswa, terutama dalam memahami perkembangan teknologi yang selama ini lebih banyak dipelajari secara teoritis di kampus dan mendorong mahasiswa untuk belajar serta mengembangkan kapasitasnya secara mandiri.

 

“Alasan mendaftar tentu karena saya melihat program ini sebagai peluang untuk mendapat global exposure. Terlebih sebagai mahasiswa informatika, mendapat kesempatan untuk mempelajari AI dan aplikasinya pada industri di negara yang menjadi salah satu pusat riset dan teknologi dunia, saya yakini akan menjadi privilege akademis yang dapat memperluas wawasan,” tuturnya saat diwawancarai secara daring, Selasa (3/2/2026).

 

Saat dinyatakan lolos sebagai peserta Program Mobilitas Mahasiswa Internasional Unsika–WHVCSE 2026, Alia mengatakan bahwa dirinya bersyukur sekaligus bangga.

 

“Saya merasa senang bisa lolos dalam program ini karena menjadi kesempatan untuk belajar di lingkungan internasional. Saya juga berharap program ini bisa menjadi pintu pembuka untuk membangun jejaring dengan para ahli dan sesama tech enthusiast dari berbagai belahan dunia,” katanya.

 

Tak hanya itu, Oman berharap agar Program Mobilitas Mahasiswa Internasional Unsika–WHVCSE tidak hanya dilaksanakan pada tahun 2026 saja, tetapi dapat berlanjut di tahun-tahun berikutnya dengan cakupan yang lebih luas. Ia pun berharap program ini tidak hanya terbatas pada Fasilkom dan FT, tetapi juga dapat diperluas ke fakultas lain agar manfaatnya dirasakan lebih luas oleh mahasiswa Unsika.

 

“Program ini harapannya berkelanjutan. Satu, berkelanjutan. Kedua, manfaatnya lebih broad mungkin ya. Kalau sekarang hanya Fasilkom dan Teknik, mungkin ke depannya bisa jadi menyasar ke fakultas lain, sehingga manfaatnya lebih banyak,” harapnya.

 

Penulis: AHN, NYV, CCR