Identitas Film 

Sumber: instagram.com

 

Judul: Surat untuk Masa Mudaku

Sutradara: Sim F.

Penulis: Daud Sumolang, Sim F

Produser: Wilza Lubis

Production House: Netflix

Genre: Drama

Tahun Rilis: 29 Januari 2026

Durasi: 121 menit

 

Pendahuluan

Film Surat untuk Masa Mudaku sebuah perjalanan emosional tentang bagaimana luka masa kecil membentuk siapa kita hari ini. Cerita berpusat pada panti asuhan, tempat Kefas bergulat dengan amarah dan dendamnya. Kini panti asuhan tidak hanya sebagai latar tempat, tetapi juga menjadi saksi bisu bagaimana perjalanan Kefas dan teman-teman panti asuhannya dalam membentuk identitas di masa dewasa. Selain soal rasa kehilangan, karakter di dalamnya  mengajak kita untuk melihat batasan antara sifat maskulin dan feminin yang selama ini dianggap kaku oleh masyarakat. Surat untuk Masa Mudaku menjadi refleksi apakah selama ini identitas kita benar-benar bawaan lahir, atau hanya peran yang sedang kita mainkan karena tuntutan lingkungan?

 

Sinopsis Film

Waktu silih berganti, seolah manusia tak punya pilihan lagi selain pergi. Rasa kehilangan ini menghantui Kefas dan teman-temannya di panti asuhan. Berlatar belakang tahun 1990-an membawa kita pada lembaran album lama. Kefas, dikenal sebagai pembangkang dan keras kepala, kerap kali membuat kerusuhan di panti asuhan. Ternyata tindakan tersebut merupakan  bentuk upaya Kefas berdamai dengan masa lalunya tentang kehilangan, dendam, dan ketidaksanggupan  menyampaikan perasaannya secara verbal. Kehadiran Pak Simon sebagai pengurus panti asuhan Pelita Kasih mengubah separuh hidup Kefas, meskipun tak luput dari konflik yang tiap hari menimpanya. Kini, relasi antara Kefas dan Pak Simon yang berbeda generasi ini terjalin melalui kesamaan luka yang mereka pendam satu sama lain. 

 

Interpretasi Film 

Salah satu poin yang paling kuat dalam film ini adalah berhasil mematahkan konstruksi sosial dan budaya yang sudah lama dibangun, yakni laki-laki dikonstruksikan memiliki sifat kuat, jantan, perkasa, dan rasional sementara perempuan dikonstruksikan lemah lembut, anggun, serta emosional. 

 

Hal ini mengingatkan pada Judith Butler dalam konsepnya yang disebut Gender Performativity, mengusung bahwa gender tidak bersifat biologis, tetapi performatif. Singkatnya, penentuan gender bukan dari sesuatu yang kita miliki, melainkan dari sesuatu yang kita tampilkan. Karakter Joy tampil dengan rambut pendek, lincah, berani, jago bermain bola, dan tidak tampil dengan atribut feminin yang lumrah dikenakan pada anak-anak perempuan. Joy tidak sedang mencoba menjadi laki-laki, hanya saja ia sedang menampilkan dirinya sendiri apa adanya. 

 

Banyak dari kita sebagai penonton mengira ia adalah sosok anak laki-laki, membuktikan kerap kali kita masih terjebak dalam stereotip kaku, yakni kalau bermain bola dan berambut pendek berarti laki-laki. Menampilkan konsep maskulinitas dan feminitas sangat kompleks terhadap apa yang ada dengan apa yang seharusnya. Kebingungan ini menghalangi kita untuk melihat diri sendiri, karena kita terlahir dengan keadaan dunia yang sudah memiliki pemahaman tersebut. Judith Butler mengingatkan bahwa kita tidak dapat sepenuhnya mengenal diri sendiri. 

 

Kelebihan

Kekuatan utamanya terletak pada Kefas yang tengah melakukan percakapan antara dirinya sekarang dan dirinya di masa lalu. Secara otomatis membiarkan kita menyelami perasaan paling jujur dan introspeksi secara perlahan. Bagian penokohannya membantu memahami melalui kacamata berbeda di setiap konflik yang terjadi antara pengurus dan anak-anak panti asuhan. Bahkan, terkadang nyaris tidak ada penyelesaiannya. Perasaan ini yang membuatnya semakin terkesan realita karena penulis naskah meramu cerita-cerita dari kehidupan nyata di panti asuhan tentang rasa kehilangan dan kesepian. Didukung dengan sinematografi yang cenderung melankolis dan intim serta penggunaan palet warna hangat menciptakan ruang bagi penonton untuk merasa terhubung dengan masa lalu. Penggunaan latar musik ‘Kidung’ karya Chris Manusama menjadi elemen vital yang berhasil menjaga ritme emosional, membuat adegan kontemplatif terasa menghanyutkan di sepanjang film. 

 

Kekurangan

Sayangnya, dialog yang terlalu rapi membuat bahasa film ini seperti bahasa teks yang dipaksakan masuk ke dalam lisan. Akibatnya, refleksi batin yang sedang dibangun beberapa karakter hanya terasa sampai permukaan saja. Kekakuan ini terjadi di awal film, hal tersebut merupakan titik pondasi film untuk membangun empati penonton hingga akhir. Hal ini berisiko penonton kehilangan fokus dan harus perlahan menunggu agar mendapatkan pengalaman menonton yang berkesan sampai terhubung dengan inti cerita yang ingin disampaikan sutradara. 

 

Kesimpulan

Surat untuk Masa Mudaku merupakan tontonan yang mengajak kita untuk membuktikan bahwa meski luka kehilangan pasti berkurang seiring waktu, namun rasa rindu justru kian bertambah. Akhir cerita yang tidak menyajikan penyelesaian hangat, justru membuatnya harus merangkul luka tersebut sampai menjadi bagian dari identitas diri. Film ini adalah surat cinta bagi siapa pun yang pernah merasa kesepian dan sedang berjuang untuk berdamai dengan masa lalu. 

 

Penulis: Konstelasi 

Desainer: Yandi Maulana