Dalam rangka memperingati hari Coral Triangle Day, Perpustakaan Punggung menggelar acara Screening & Talking Film dokumenter mengenai ruang penghidupan warga terhadap Proyek Strategis Nasional (PSN), Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Jawa-1 Power Cilamaya, yang diselenggarakan di halaman kantin belakang kampus Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika), pada Selasa (9/6/2026). Diskusi ini dipenuhi oleh berbagai elemen mahasiswa, membahas ancaman nyata yang menjadi dampak dari adanya PLTGU Jawa-1 Power Cilamaya, Karawang.
Film dokumenter yang ditayangkan merupakan hasil observasi dan kolaborasi dari Non-Governmental Organization (NGO) Ruang, Energi Don’t Gas Indonesia, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Resonan, LPM Didaktika, Perpustakaan Punggung dan komunitas lokal Sidamulya Kampung Pintu (SKP).

Dokumentasi saat sesi talking film dokumenter, Selasa (9/6/2026).
Salah satu tim observasi dan kampanye, Aditya, menjelaskan kegiatan tersebut bertujuan mengangkat isu keanekaragaman hayati laut yang dinilai semakin terancam akibat ekspansi industri gas dan Liquefied Natural Gas (LNG). Menurutnya, adanya praktik perluasan dengan skala besar sejumlah proyek pembangkit listrik berbahan bakar LNG berpotensi memperburuk kondisi ekosistem laut.
“Dalam momentum ini juga yang ingin kami hadirkan adalah bagaimana ekosistem keanekaragaman hayati di ekosistem laut ini diperparah keadaannya dengan ekspansi gas dan LNG serta banyaknya titik-titik yang akan diperluas menjadi pembangkit listrik atau pembangkit energi yang bahan bakarnya adalah LNG,” jelasnya saat diwawancarai langsung, Selasa (9/6/2026).
Ia menambahkan bahwa meskipun LNG kerap diklaim dan dipropagandakan sebagai harapan energi yang lebih bersih, berbagai literatur telah menunjukkan bahan bakar tersebut tetap memiliki dampak negatif terhadap kesehatan manusia dan lingkungan.
“Mereka klaim sebagai solusi bersih, tapi nyatanya dan banyak literaturnya sudah menyatakan bahwa LNG punya kandungan yang sangat berbahaya untuk kesehatan dan juga lingkungan,” tambahnya.
Terkait kandungan LNG yang dapat merusak ekosistem keanekaragaman hayati di laut, Aditya juga menyampaikan relevansi dan pentingnya keberlangsungan terumbu karang bagi penghidupan manusia juga keberlangsungan mata pencaharian lokal seperti nelayan yang terancam semenjak adanya PLTGU Jawa-1 Power Cilamaya beroperasi.
“Terumbu karang sudah sangat nyata bahwa mereka sebagai produksi amplitudo dari bencana-bencana yang terjadi, itu yang pertama. Terumbu karang juga memiliki oksigen atau penarikan karbon dioksida yang cukup besar dari hutan. Kedua, bagaimana yang paling penting adalah tangkapan laut mereka itu nominalnya 19,1 juta, menghasilkan dan memberi distribusi kepada dunia dalam segi pangan perikanan,” ungkapnya.
Salah seorang peserta diskusi, Raihan, mengatakan kegiatan tersebut memberikan banyak informasi lengkap mengenai kerusakan lingkungan yang terjadi akibat operasional PLTGU Cilamaya. Film dokumenter dan diskusi yang berlangsung tidak hanya mengulas dampak terhadap ekosistem pesisir, tetapi juga memaparkan bagaimana aktivitas industri energi dapat mempengaruhi ruang hidup masyarakat
“Impact yang didapatkan dari diskusi ini ternyata banyak, jadi kita bisa tahu bahwa ada kerusakan lingkungan yang terjadi oleh PLTGU, dan bagaimana PLTGU justru menimbulkan kerusakannya lebih masif daripada manfaat yang didapat,” ungkapnya saat diwawancarai langsung, Selasa (9/6/2026).
Aditya berharap kegiatan tersebut dapat meningkatkan kesadaran terhadap berbagai persoalan yang terjadi di sekitar lingkungan kampus. Menurutnya, keberadaan PLTGU sebagai PSN, telah menimbulkan dampak yang nyata bagi masyarakat dan lingkungan sehingga perlu mendapat perhatian.
“Yang pertama yang pasti pola pengetahuan dan kesadaran baru di mana mereka yang terkondisikan dan tertutup di dalam ruang pendidikan itu bisa melahirkan atau mengakses pengetahuan baru terkait kondisi yang terjadi di sekitar mereka, dan harapannya ke depan ya semoga teman-teman juga bisa menjadikan celah-celah masalah ini untuk ikut juga berkontribusi, bahwa PLTGU ini merupakan PSN dan masalah serta dampak yang dia hadirkan sudah sangat nyata dan terasa,” harapnya.
(PAI, DST)