“Ibu, bisakah tetap menjaga kestabilan kapal ini? Guncangan menghambat pikiranku untuk berdansa ria.”
Semburat matahari menari dari ufuk timur, bergelimang gelora yang satu per satu menyapa kehidupan. Mengubah uap air menjadi pundi-pundi kehidupan awan, kepada langit ia melukiskan latar dengan cat biru muda, kepada pohon ia senantiasa hadir menemani proses memasak di dapurnya, juga kepada kami sebagai sumber petunjuk untuk terus menemukan petualangan baru.
Orang-orang turut sama memulai petualangannya sendiri. Hanya saja kerap kali terjebak dengan rutinitas yang datar itu, apa serunya? Menyebalkan.
Ibuku seorang kapten terhebat yang pernah aku temui. Setiap pagi ia selalu memastikan kapal bersih tanpa noda setitik pun agar bisa melaju dengan gagah rupawan. Tak lupa, kenyamananku sebagai laksamana ia pastikan agar tidak jatuh ke dalam lubang kelaparan. Beberapa dari mereka melihat muatan kami pasti menyebutnya ‘barang rongsokan’ bahkan sampai menutup hidung saat kami melintas bak kapal ini tengah menumpahkan limbah akut yang kami bawa dari pinggiran. Ironis sekali mata dan pikiran mereka, terjebak dengan angka-angka di layar kantor. Angka-angka tersebut pasti telah memakan seluruh imajinasi mereka. Menyebalkan ya menjadi dewasa.
Padahal, bagiku kapal ini adalah keajaiban yang bisa menembus batas-batas dunia, batas nasib sekali pun. Roda kapal dari kayu jati purba ini bisa mengeluarkan alunan musik keriat-keriut setiap kami melintasi Galaksi Aspal. Itu adalah proses alami mesin yang tengah berkomunikasi dengan jalanan. Hal paling spesial adalah kendaraan ini dikemudikan oleh makhluk terkuat yang pernah aku temui. Jika disandingkan lengannya dengan tembaga akan sama persis warnanya. Bedanya hanya pada bagian otot dan aroma yang dihasilkan, bau matahari bercampur debu, kadang kecut asam.
“Berpegangan yang kencang, Laksamana Muda! Kita berangkat,” seru Ibu sambil menancapkan kaki ke permukaan yang berkerikil.
“Ayay, Kapten!”
Misi pertama adalah tumpukan kardus mi instan. Dengan kardus mi instan, bisa menaikkan takhtaku untuk melihat seluruh isi kota dari ketinggian. Boleh juga dengan kardus kulkas, mungkin takhtaku akan naik dua kali lipat. Kardus-kardus kali ini empuk sekali, lebih empuk dari kardus yang selama ini telah menyerap ribuan cerita perjalanan kami. Oiya, hampir lupa. Perjalanan jauh ini perlu hiburan di kapal agar tak jenuh, mungkin pertunjukan musik salah satunya? Ah, akulah pemain musik handal itu. Ya, aku butuh alat musik. Ibu pasti senang melihat pertunjukan spektakuler dengan kaleng besi bekas biskuit. Aku juga harus memastikan para tamu agar tidak kelaparan dan kehausan setelah menonton pertunjukan musik.
Sekarang aku butuh koki. Baru saja Ibu menemukan boneka bertubuh tinggi ramping dengan dua kunciran di rambutnya dari tumpukan lautan sampah. Hari ini menjadi hari pertamanya bekerja sebagai juru masak di kapal. Saranku, siapkan hidangan terlezat untuk mewarnai perjalanan tamu. Bola-bola ubi cokelat lumer atau bakso kuah hangat dengan isi daging premium tanpa nasi misalnya. Sebentar, aku lihat stok di kulkas. Masih ada! Mari kubantu buatkan, Erine. Ya, sekarang namamu Erine.
“Tempat apa ini?” Erine mulai kebingungan.
“Kapal besar dengan standar keamanan internasional. Karena dengan kapal ini kita akan melintasi batas-batas dunia, batas nasib sekali pun.”
“Di mana kamarnya?” Erine penuh heran.
“Kardus-kardus ini.”
“Mana dapur, bak mandi besar, dan kolamnya?”
“Kolam? Untuk apa?”
“Rumahku ada kolam besar dan airnya selalu jernih.”
Penuh keraguan, kuperlihatkan ember merah pecah hasil pungutan Ibu lusa lalu. “Ember ini cukup?”
“Membosankan,” ketus Erine sebelum mengerutkan dahinya yang tertutup poni.
Aku memilih berkutik menunjukkan harta karun yang dikumpulkan Ibu sebelumnya. Kabel tembaga yang kupelintir menjadi mahkota dan kaleng sarden bekas yang ku sebut sebagai kotak pemancar galaksi. Bagiku, ini adalah keajaiban sekaligus amunisi untuk bertahan hidup. Erine hanya melihat dengan mata fisiknya, menurutnya sampah itu tak ternilai. Heran, mengapa berpikir seperti itu? Mungkin salah satu penduduk utopia yang terbiasa dengan sistem membeli segala hal, sementara di sini semua tercipta dari sisa-sisa. Erine tidak butuh keajaiban seluruh isi kapal ini karena ia terlahir bersamaan dengan hak pilihan.
“Lihat, sekarang bukan lagi ember bolong. Ini adalah mesin penadah hujan kristal, kristal ini akan menjadi ramuan kebahagiaan dan menjadi saksi bisu perjalanan kita.”
Erine termenung. Aku mulai bisa merasakan tatapannya yang berusaha menerima kekonyolan ini meski wajahnya mulai melembut.
“Lalu bagaimana musiknya?” tanyanya lagi. Segera aku meraih kaleng biskuit yang sudah penyok di beberapa sisi. Diisi dengan beberapa kerikil yang ku temukan di galaksi lain agar lebih nyaring suaranya.
“Biasanya, Mama melantunkan senandung bait per bait dan Papa mengiringi dengan piano kesayangannya. Aku terpanah duduk diam di sofa menyaksikan dari kejauhan.”
“Dengar, Erine. Ini adalah simfoni perjalanan. Setiap guncangan kapal adalah konduktornya. Kau tidak akan pernah menemukan irama sejujur ini di balik tembokmu yang kedap suara.”
Sesuatu terjadi padanya. Aku mulai melihat binar di mata Erine. Mungkin hanya cahaya matahari menyelinap melalui celah kapal yang belum sempat Ibu perbaiki. Namun, Erine baru saja tersenyum, ia mulai memahami fragmen dari petualanganku.
“Baiklah, Laksamana,” Erine berambisi, kali ini suaranya terdengar jernih. “Sepertinya juru masak sepertiku butuh inspirasi baru. Mari kita cari bola-bola ubi di sepanjang jalan.”
Akhirnya kami mencapai mufakat. Erine tidak lagi mengeluh soal kolam renang, dapur, atau apalah realita yang berasal dari dunia utopia itu. Ia mulai membantuku mendata harta karun yang Ibu temukan di sepanjang jalan. Hingga akhirnya kapal terhenti di sebuah persimpangan lampu merah, memaksa Ibu untuk mengerem kapal secara perlahan.
Di samping kapal kami sangat padat dipenuhi kapal-kapal yang begitu besar, dua bahkan tiga kali lipat dari kapal kami. Hitam legam, mengkilap, dingin, dan sudah dilengkapi fitur pelindung dari badai hujan serta teriknya surya. Wah, kacanya turun perlahan otomatis. Di baliknya terdapat sosok anak perempuan berbaju merah muda yang sama dengan Erine, model kuncirannya juga. Mungkin anak itu sepantaran denganku. Rautnya kosong, tidak seperti Erine yang periang di setiap petualanganku. Mulai menatap ke arah kami lalu menatap kendaraan yang kami kemudikan, entahlah tatapan itu sulit diartikan.
“Hei, Erine. Itu kembaranmu!” seruku meriah.
Anak perempuan di dalam mobil itu membuang muka. Kaca mobil naik perlahan mengurung anak itu kembali dalam kesunyian kendaraannya. Melesat ketika lampu berubah menjadi warna hijau, meninggalkan sapaan pada kami dalam kepulan asap knalpot hitam pekat.
Kapten memutuskan melabuhkan kapal di depan ruko beras yang sudah tutup, pertanda hari sudah semakin larut untuk melanjutkan petualangan. Suasana jalan lengang menjadi sumber ancaman bagi kami yang hanya mengandalkan semburat bulan redup. Kini, menyisakan sunyi seolah malam telah menelan semua suara. Ibu bergegas membentangkan kardus kulkas yang tadi siang menjadi takhta.
“Selamat tidur, Laksamana Kecil. Temukan petualangan yang lebih bermakna esok hari,” kalimat pengantar tidur dari Ibu sembari menyelimutiku dengan plastik lusuh.
Aku merebahkan diri, memposisikan Erine di sampingku agar kami bisa bersamaan melihat rasi bintang dari kejauhan.
“Kalau kau terlahir kembali, kehidupan seperti apa yang ingin kau pilih?” mendadak tanya Erine.
“Bahkan aku terlahir tanpa pilihan.”
Kami mendingin satu sama lain, Erine tak bertanya lagi. Aku mencoba memejamkan mata setelah Kapten tertidur lelap dengan napas yang berat. Di atas sana, rasi bintang tetap sunyi. Bersinar acuh tak acuh pada dua nyawa yang sedang menunggu pagi untuk mengulang kekalahan yang sama.
Penulis: Konstelasi
Desainer: Azizah Marzha