Perpustakaan Punggung bersama Aksi Kamisan Karawang menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi film dokumenter berjudul Pesta Babi di kantin belakang Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika), Jumat (17/4/2026). Kegiatan ini bertujuan membuka kesadaran mahasiswa terhadap isu ketidakadilan yang masih berlangsung di Papua, meliputi perampasan tanah adat, hilangnya sumber pangan, dan eksploitasi lingkungan akibat Proyek Strategis Nasional (PSN).
Penyelenggara acara, Muhammad Acep, menyampaikan, kegiatan ini digelar untuk membuka kesadaran mahasiswa terhadap penindasan yang terjadi di Papua yang sudah berlangsung lama, sejak negara menempatkan kepentingan modal di atas hak masyarakat.
“Kami menyelenggarakan ini supaya kawan-kawan di sini tahu bahwasannya yang terjadi di Papua ini masih banyak ketertindasan dan perampasan tanah adat, tanpa adanya keterlibatan masyarakat setempat. Ketertindasan dan perampasan tanah ini bukan ada secara tiba-tiba, tapi sudah sejak negara memiliki kepentingan modal sehingga segala institusi negara dari militer sampai pendidikan, ekonomi, dan hukum diarahkan untuk melancarkan kepentingan investasi ini,” ujar Acep saat diwawancarai langsung, Jumat (17/4/2026).
Acep menambahkan, meski dipersiapkan dalam waktu sekitar satu minggu, kegiatan yang diinisiasi oleh Perpustakaan Punggung dan Aksi Kamisan ini berhasil menarik antusiasme peserta melalui penyebaran pamflet dan informasi dari mulut ke mulut.
“Nggak lama ya persiapannya, kita mengirim data untuk bisa ditonton bareng sampai filmnya ini dikirim itu sekitar satu mingguan. Kami cuma menyebar pamflet dan kita memberitahu dari mulut ke mulut dan beberapa organisasi,” tambah Acep.
Acara ini menghadirkan pemantik diskusi, Darma Putra Gotama, yang menjelaskan bahwa pesan utama film tersebut adalah perjuangan masyarakat adat Papua dalam mempertahankan nilai hidup yang diwariskan turun-temurun, mulai dari cara mencari makan, berlindung, hingga berobat, semuanya kini terancam oleh proyek pemerintah yang dinilai berjalan tanpa pendekatan kepada masyarakat.
“Jadi bukan hanya kehidupan tapi nilai hidup, yang di mana nilai hidup ini akan diturunkan gitu dari dia ke anak ke cucu. Mereka sedang menjaga nilai hidupnya dari proyek-proyek pemerintah Indonesia yang dalam hal ini tuh membabi buta tanpa pengkajian terlebih dahulu, hanya menimbang antara untung dan rugi," tutur Darma saat diwawancarai langsung, Jumat (17/4/2026).

Potret memantik diskusi film Pesta Babi oleh Darma Putra Gotama, Jumat (17/4/2026).
Darma juga menarik keterkaitan isu Papua dengan kondisi di Karawang, yakni lahan sawah produktif terus dikonversi menjadi kawasan perumahan tanpa kajian yang cukup. Ia menegaskan bahwa pemerintah Republik Indonesia, dari tingkat pusat hingga daerah, merupakan pihak yang paling bertanggung jawab atas konflik ruang hidup yang terus menimpa masyarakat adat.
“Pemerintah Republik Indonesia, dalam hal ini pemerintah pusat, malah menghancurkan lahan-lahan padi ini. Lumbung-lumbung padi ini menjadi proyek perumahan rakyat tanpa kajian pula, bahwa ternyata lahan-lahan ini adalah lahan-lahan padi yang saat ini masih produktif,” tegasnya.
Salah satu peserta, Ikhsan, menilai film ini memperlihatkan bagaimana PSN seolah kebal terhadap hukum sehingga hak masyarakat adat pun tergusur. Ia menegaskan pentingnya mahasiswa dibekali nilai keberpihakan kepada rakyat agar ilmu yang diperoleh kelak tidak berbalik merugikan masyarakat.
“Kampus sebagai laboratorium akademik seharusnya sudah memproduksi pemikiran-pemikiran yang relevan dengan kondisi hari ini. Kalau mahasiswanya tidak dibekali dengan nilai-nilai keberpihakan terhadap rakyat pekerja, maka yang dikhawatirkan ketika mereka menjabat, mereka berpihak dengan kaum pemodal untuk menindas masyarakat demi kepentingan pribadi pada akhirnya,” jelas Ikhsan saat diwawancarai langsung, Jumat (17/4/2026).

Potret Suasana diskusi mahasiswa Unsika usai pemutaran film Pesta Babi, Jumat (17/4/2026).
Di penghujung acara, Acep berharap kegiatan serupa dapat terus digelar secara rutin agar mahasiswa terbiasa berdiskusi dan memahami persoalan yang terjadi di berbagai penjuru Indonesia.
“Harapannya, kedepannya makin ramai dan harian-harian mereka dirawat sama kami supaya ketika ada acara keluar atau di dalam Karawang sini, mereka tahu apa yang harus dikeluarkan dan kita sudah merawat hariannya dengan cara menonton film, diskusi bareng. Jadi nggak kosong ketika keluar diajak ke acara dan mereka tahu apa yang terjadi di daerah-daerah di Indonesia ini,” tutupnya.
(WJM, AFA, KKB)