Praktik perkuliahan Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi (PJKR) Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika) tidak selalu berlangsung di dalam kampus. Di tengah keterbatasan fasilitas, mahasiswa kerap harus menjalani praktik di luar dengan biaya mandiri yang muncul berulang, mulai dari sewa tempat, pembelian alat, hingga transportasi. Kondisi ini tidak hanya menambah beban di luar Uang Kuliah Tunggal (UKT), tetapi juga memengaruhi akses dan kualitas pembelajaran praktik yang seharusnya menjadi inti dalam program studi PJKR. 

 

Salah satu mahasiswa PJKR angkatan 2025, berinisial A, menuturkan bahwa di dalam kampus Unsika, fasilitas seperti lapangan memang tersedia, tetapi penggunaannya terbatas karena harus dibagi dengan yang lain. Kondisi tersebut menyebabkan kegiatan praktik tidak berjalan secara optimal karena penggunaan lapangan secara bersamaan turut mengganggu jalannya praktik.

 

“Jadi kita memaksakan untuk pake lapangan tersebut. Yang di depan, tapi ya gitu, minusnya kita harus gabung sama yang lain juga. Di situ kan posisinya ada basket juga ya, jadi kayak, buat bagi tempatnya agak susah, karena atletik kan butuh lapangan yang luas,” tuturnya saat diwawancarai langsung Kamis, (6/4/2026).

 

Selain itu, salah satu mahasiswa PJKR angkatan 2023, berinisial U, mengatakan bahwa keterbatasan juga terlihat pada ketersediaan alat praktik yang tidak seimbang dengan jumlah mahasiswa dalam satu kelas. Kondisi ini memaksa mahasiswa untuk menggunakan alat secara bergantian agar kegiatan praktik tetap berjalan meskipun pengalaman yang diperoleh menjadi kurang optimal dibandingkan yang seharusnya.

 

Nah si lempar lembingnya itu terbatas cuma ada dua dan mahasiswa itu kan ada 33 lah sekelas. Jadi teman-teman mempraktikan yang asli ngelempar lembing itu hanya kebagian satu kali saja,” ujarnya saat diwawancarai langsung Kamis, (6/4/2026).

 

Salah satu alumni PJKR lulusan 2025, berinisial W, menilai bahwa persoalan keterbatasan fasilitas telah berlangsung sejak lama. Ia menyebutkan bahwa kondisi yang saat ini dialami mahasiswa tidak jauh berbeda dengan situasi saat dirinya masih menjalani perkuliahan. Akibatnya, ketika hendak mempelajari mata kuliah tertentu, mahasiswa harus melaksanakan kegiatan di luar kampus.

 

“Memang kurang. Unsika itu untuk prodi PJKR, fasilitasnya kurang, ketika kita mau mempelajari mata kuliah, kita harus keluar kampus,” ujarnya saat diwawancarai secara online melalui Zoom, Rabu (22/4/2026).

 

Hal serupa disampaikan oleh U, bahwa dalam beberapa kondisi, kebutuhan akan fasilitas tertentu membuat mahasiswa harus menjalani praktik ke luar kampus menggunakan biaya mandiri. Sebagai contoh, di Unsika belum tersedia kolam renang sehingga mahasiswa harus menyewa fasilitas tersebut di tempat lain. 

 

“Kadang kita butuh banget mengenai fasilitas itu, terkadang kita harus nyewa keluar, kayak contoh di Unsika sendiri ga ada kolam renang, kita harus nyewa kolam renang,” sampainya.

 

U menjelaskan bahwa memang terdapat standarisasi dalam setiap praktik yang harus mengikuti ketentuan yang berlaku, seperti ukuran lapangan. Namun, karena fasilitas yang tersedia tidak sesuai dengan standar tersebut, pelaksanaan praktik akhirnya harus dilakukan di luar kampus. 

 

“Adanya standarisasi kan setiap praktek itu harus sesuai dengan standar yang ada, misalnya ukuran lapangannya, tapi dikarenakan fasilitasnya gak sesuai dengan standar yang ada, jadi harus di luar,” jelasnya.

 

U mengungkapkan bahwa Unsika belum menyediakan fasilitas yang memadai. Akibatnya, mahasiswa PJKR harus menuju kawasan Cipule untuk melaksanakan kegiatan praktik.

 

“Jadi pertama tuh kita ketika mata kuliah harus ke Cipule,” ungkapnya.

 

Menanggapi hal tersebut, A menambahkan bahwa dalam beberapa kasus, terdapat hambatan di perjalanan, seperti kendaraan mogok yang membuat mahasiswa tidak dapat mengikuti kegiatan. Namun, ketidakhadiran tersebut tetap dianggap tidak hadir oleh dosen meskipun alasannya karena kendala di jalan. 

 

“Kendalanya di transportasi, nah jaraknya yang gak memadai, jauh. Terus ya, kalau pahit-pahitnya ada problem di jalan ketika kita berangkat tuh, ada yang mogok sampai nggak bisa ikut, dan itu di alfain karena ga dianggap sama dosennya walaupun alasannya mogok dijalan,” tambahnya.

 

Selain itu, U menuturkan bahwa perpindahan praktik ke luar kampus membawa konsekuensi biaya tambahan yang tidak sedikit. Pengeluaran tersebut diperkiraan biaya terbesar berada di kisaran seratus ribu rupiah atau bahkan dapat lebih dari tarif tersebut. 

 

“Pokoknya paling gede itu berapa ya? Seratus gitu kisaran seratus ribuan atau up seratus,” ujarnya.

 

Dalam beberapa kasus, U mengatakan bahwa pada semester dua dirinya mendapatkan mata kuliah tenis meja. Namun, karena di Unsika tidak memiliki fasilitas yang memadai, akhirnya satu kelas diwajibkan patungan hingga mencapai sekitar satu juta rupiah. 

 

“Di semester dua saya mendapatkan mata kuliah ini tenis meja, karena di Unsika gak ada fasilitasnya, akhirnya kita patungan sejuta satu kelas,” katanya.

 

U mengungkapkan jika di akumulasi, biaya tersebut menjadi beban tambahan yang signifikan. Bagi sebagian mahasiswa, biaya tambahan tidak lagi sekadar pengeluaran pendukung, tetapi mulai memengaruhi keberlangsungan studi. Bahkan, mahasiswa menyebut terdapat kondisi di mana mereka harus mencari pinjaman untuk dapat mengikuti praktik.

 

“Di sisi lain kan karena banyaknya patungan, harus sampe dia tuh scan KTP (Kartu Tanda Penduduk) kak, paham lah you know sampai Pinjol (Pinjaman Online). Dan itu tuh berlangsung lama, sampai semester tiga, sampai dengan dia tuh akhirnya mau ngambil cuti,” ungkapnya. 

 

Selain biaya praktik, pengeluaran lain juga disebut muncul dalam bentuk kegiatan pendukung perkuliahan. W menjelaskan adanya seminar berbayar yang berkaitan dengan mata kuliah. Seminar tersebut bersifat tidak wajib, namun kerap dimanfaatkan mahasiswa untuk menambah nilai sekaligus dinilai memberikan tambahan pemahaman dalam pembelajaran.

 

“Waktu itu ada seminar berbayar, tapi sifatnya ga wajib. Ada matkul renang yang nilai UASnya jelek dan bisa dibantu dengan ikut seminar,” ujarnya saat diwawancara via WhatsApp, Sabtu (25/4/2026).

 

U juga menyebutkan adanya pengalaman berbeda pada angkatannya terkait pelaksanaan kegiatan serupa. Seminar disebut menjadi kegiatan yang harus diikuti dalam konteks perkuliahan.

 

Cuman sekarang-sekarang, agak minim untuk praktik ya, ke lapangan. Jadi belum menemukan, alhasil diganti dengan seminar, sekarang dosen yang main duitnya, dibilang sering sih, lumayan sih,” sebutnya.

 

W menyoroti bahwa ketersediaan fasilitas yang lengkap dapat meningkatkan semangat belajar mahasiswa, sementara keterbatasan fasilitas di kampus justru menimbulkan kesan kurang diperhatikan dan berdampak pada menurunnya motivasi belajar. 

 

“Kalau misalkan kita belajar dengan fasilitas yang lengkap, itu nambah semangat ke kitanya, ke mahasiswa. Tapi kalau misalkan kita ngelihat kampusnya kekurangan fasilitas, kayak acuh tak acuh gitusebodo amatan istilahnya, jadi mengurangi semangat mahasiswa juga dalam belajar,” ujarnya.

 

U menyebut persoalan fasilitas telah beberapa kali disampaikan melalui jalur organisasi maupun secara langsung. Namun, hingga saat ini belum terlihat perubahan signifikan. 

 

Nah di sisi lain, teman-teman himpunan pun kadang aksesnya susah untuk ke kaprodinya. Yang pertama kaprodi tersebut sulit ditemuin. Jadi sehingga ada aspirasi yang diserap oleh teman-teman himpunan, terkhusus himpunan PJKR itu stuck di kesmanya karena ketika mereka menyampaikan ke kaprodi yang sulit ditemukan akhirnya sulit gitu,” sebutnya.

 

Hingga berita ini diterbitkan, pihak program studi PJKR dan dekan FKIP belum memberikan pernyataan resmi terkait tanggapan atas permasalahan yang terjadi. Upaya konfirmasi telah dilakukan, setidaknya sejak Kamis (16/4/2026).

 

A berharap ke depannya fasilitas yang masih kurang dapat segera terpenuhi mengingat kebutuhan tersebut sangat penting bagi mahasiswa. Menurutnya, kekurangan fasilitas mungkin masih dapat dimaklumi pada semester awal, namun tidak seharusnya terus berlanjut pada semester berikutnya karena mahasiswa tetap membutuhkan sarana dan prasarana yang memadai untuk menunjang proses pembelajaran. 

 

“Harapan aku sih, buat kedepannya ya, semoga sih bisa terpenuhi fasilitas-fasilitas yang kurang itu. Karena itu sebenarnya butuh banget sama kitanya. Soalnya kalo misalnya masih semester 1 semester 2 masih oke yaTapi buat seterusnya jangan deh, karena itu kan kita udah mau terus belajar lagi. Jadi masa fasilitasnya terus tidak terpenuhi,” harapnya.

 

Sementara itu, W menyampaikan harapannya agar fasilitas pembelajaran segera dilengkapi, tidak hanya untuk program studi PJKR, tetapi juga seluruh program studi dan fakultas, guna menunjang proses belajar yang lebih efektif. 

 

“Harapan saya yang pertama, tolong, untuk fasilitas, bukan hanya prodi PJKR, tapi seluruh prodi dan fakultas, itu tolong dilengkapi untuk pembelajaran yang efektif. Karena tidak sesuai dengan UKT kita yang sangat tinggi, tapi fasilitas nol. Saran saya. Tolong segera realisasikan untuk membuat fakultas baru, khususnya untuk Fakultas Olahraga, karena di universitas mana pun olahraga itu ada fakultasnya tersendiri, bukan tercantum dengan FKIP,” sampainya.

 

Penulis: CCR, YSZ