Seorang anak sekolah tidak pernah dididik untuk menghadapi pentungan. Ia tidak berangkat dari rumah untuk membuktikan apakah tubuhnya cukup kuat menahan 'tindakan tegas'. Tetapi entah sejak kapan, ketegasan dan kekerasan menjadi dua hal yang sulit dibedakan. Betapa mudahnya semuanya dilakukan. Disebut oknum. Disebut insiden. Disebut kesalahpahaman. Sementara yang hilang tetap nyawa, dan yang retak adalah rasa percaya. 

 

Jika benar pukulan itu yang menyebabkan kematian, maka ini bukan lagi soal ‘oknum yang khilaf'. Ini soal bagaimana kekuasaan dipraktikkan di lapangan. Ini soal budaya penggunaan kekuatan yang terlalu mudah dilepaskan, terlalu ringan digunakan.

 

Seorang anak yang berkendara bukan ancaman keamanan nasional. Ia bukan musuh negara. Lantas mengapa harus memberinya lompatan serta pukulan?

 

Kita tumbuh dengan keyakinan bahwa aparat adalah pelindung. Bahwa seragam itu simbol keamanan. Bahwa kendaraan taktis dan senjata hanya akan digunakan untuk menjaga, bukan mencabut nyawa. Tetapi keyakinan itu terasa semakin rapuh setiap kali video kekerasan oleh aparat kembali memenuhi layar media sosial.

 

Kekuasaan jika terlalu lama dibiarkan tanpa kontrol yang nyata maka akan merasa kebal. Ia tidak lagi merasa perlu menjelaskan diri. Ia cukup berkata ‘sesuai prosedur’. Dan kalimat itu diulang, diulang, dan diulang sampai kehilangan makna. Kekerasan yang ‘sah’ hanya sah jika digunakan secara proporsional, terukur, dan untuk melindungi. Begitu ia berubah menjadi alat intimidasi atau respon yang berlebihan, legitimasi itu mulai runtuh yang berujung membunuh.

 

Mengapa setiap tragedi selalu diikuti dengan janji evaluasi, tetapi jarang diikuti perubahan yang benar-benar terasa? Mengapa pola yang sama terus muncul? 

 

Kita tidak sedang berbicara tentang membenci institusi. Kita sedang berbicara tentang menyelamatkannya dari pembusukan moral yang pelan-pelan merusak kepercayaan publik. Karena ketika publik sudah tidak percaya, tidak ada seragam dan tidak ada pangkat yang bisa memaksa rasa hormat itu kembali.

 

Jika aparat benar-benar ingin dihormati, maka jalan satu-satunya bukan menunjukkan kekuatan, tetapi menunjukkan akuntabilitas. Sebab pada akhirnya, negara yang kuat bukan yang paling keras suaranya atau paling berat rodanya. Negara yang kuat adalah yang berani bertanggung jawab ketika kekuasaannya melukai rakyatnya sendiri.

 

Penulis: Aletha Dhixie

Desainer: Raihan Ramdhani