Darurat Stunting di Karawang Sebabkan Bayi Meninggal

Redaksi
05 Agt 2023
Artikel
Thumbnail artikel Darurat Stunting di Karawang Sebabkan Bayi Meninggal
Karawang–Penanganan stunting di Kabupaten Karawang ternyata belum maksimal. Seorang bayi berusia 22 bulan meregang nyawa karena stunting. Fikri meninggal setelah sekian lama menahan sakit yang dideritanya. Minggu malam, 21 Mei lalu, Fikri sempat demam sebelum akhirnya meninggal esoknya (22 Mei) pada pukul delapan pagi.

Sejak awal tahun, Fikri mengalami stunting, semacam gangguan gizi kronis yang mengakibatkan terganggunya pertumbuhan. Fikri tinggal bersama ibunya di daerah yang cukup terpelosok, yakni Desa Parung Mulya, Ciampel, Karawang. 

Kondisi ekonomi keluarga Fikri memprihatinkan. Ibu Fikri hanyalah ibu rumah tangga. Untuk makan sehari-hari saja mereka sulit. Lokasi tempat tinggal Fikri sukar diakses. Jalannya rusak, terjal, banyak bebatuan dan hanya bisa dilalui menggunakan kendaraan tertentu. 

Di sana listrik juga belum ada. Sumber air bersih sulit. Untuk cuci pakaian dan piring, hingga mandi, sebagian warga Desa Parung Mulya ini hanya mengandalkan air sungai dan hujan. 

Balik lagi ke Fikri. Kondisi stunting-nya tidak lepas dari pernikahan dini Ibu Fikri. Beliau menikah di usia 14 tahun. Waktu itu Ibu Fikri hanya lulus Sekolah Dasar (SD), beliau bercerai dengan suaminya ketika Fikri berusia 1 tahun.

Tadinya Fikri lahir dalam kondisi normal dan baik. Namun, karena kondisi ekonomi yang terbatas, Fikri tidak mendapat asupan gizi yang cukup. Ditambah lagi kondisi lingkungan dan sanitasi yang tidak memadai. Lalu, akses kesehatan juga jauh. Karena itu, Fikri mengalami stunting.

Orang tua Fikri jarang membawanya ke Posyandu atau layanan kesehatan terdekat untuk menangani stunting Fikri. Justru ibunya membawa Fikri ke paraji alias dukun beranak. Sehingga dari pihak kader Posyandu pun telat mengetahui kondisi stunting Fikri. 

Memasuki usia 22 bulan, gejala stunting Fikri semakin parah. Berat badannya turun, tulang-tulangnya semakin terlihat, belum bisa berbicara, bahkan belum bisa jalan. Kondisi yang janggal untuk anak-anak seusia Fikri. 

Hingga akhirnya kondisi Fikri telah diketahui oleh Tim Pendamping Keluarga (TPK) dan langsung dilakukan pengecekan. TPK mengukur tinggi badan dan berat badan Fikri. Hasilnya, Fikri mengalami stunting tingkat tinggi.

“Pas konversi ke status gizi memang stunting, berat badan juga kurang pas diperiksa.” ucap R. Siti Mardiyanti Pratiwi, salah satu Kader TPK pada tim wawancara Rabu, (06/06/2023).  

                              
      
1.2 Gambar: pada saat Tim redaksi interview dengan kader TPK bu (R. Siti Mardiyanti Pratiwi)

Kondisi Fikri sempat membaik pasca penanganan TPK. Namun, setelah beberapa minggu kondisi Fikri kembali memburuk karena ibu Fikri tidak disiplin memberi obat kepada Fikri. Ketika kondisi Fikri memburuk, ibunya tidak lekas membawa ke rumah sakit. Justru keluarganya membawa ke orang pintar. Karena tidak tertangani secara medis, Fikri pun meninggal. “Jadi enggak dibawa ke dokter atau ke rumah sakit atau ke puskesmas, katanya malah dibawa ke ustad,” ujarnya.

Di tengah gencarnya sosialisasi penanganan stunting, ternyata pemerintah Kabupaten Karawang luput dalam kasus meninggalnya FIkri. Sejak tahun kemarin misalnya, Pemda sudah menggembor-gemborkan banyak program seperti Bapak Asuh Stunting, Pos Gizi, Aksi Gizi, satu hari satu telur, dan lain-lain.

Sayangnya program kegiatan ini belum dilakukan secara merata terhadap locus stunting khususnya yang paling pelosok, hingga telat penanganan sampai ada kasus meninggal seperti yang dialami Fikri. 

Sub Koordinator Kelompok Sub Substansi Gizi, Dinas Kesehatan Karawang, Dede Ratnaningrum menyatakan penyebab stunting itu dari berbagai faktor, baik secara langsung dan tidak langsung. Penyebab langsungnya ialah ketersediaan pangan rumah tangga dan asupan gizi yang kurang. “Sehingga disitu bisa menyebabkan infeksi berulang,” ujar Dede kepada Tim Redaksi Ilmu Komunikasi FISIP Unsika Sabtu, (17/05/2023).
                        
1.3 Gambar: lokasi liputan Dinas Kantor Kesehatan Karawang & interview dengan Sub Koordinator Kelompok Sub Substansi Gizi

Kemudian yang tidak langsung seperti sanitasi yang buruk atau jamban yang tidak layak air bersih. “Yang tidak aman menggunakan air sungai untuk cuci peralatan makan, yang bisa saja menyebabkan diare,”  katanya.

Berikut Interview Tim Redaksi Dengan Beliau: 
https://story.interviewjs.io/mJdQDDLxH5HU2m9vXz8Jpx/ 

Dosen Ahli Gizi Fakultas Ilmu Kesehatan Unsika Karawang, Milliyantri Elvandari mengatakan penyebab stunting bisa berawal dari pranikah. “Usia pernikahan yang belum sesuai sebelum umurnya dan juga status gizi ibu yang belum sesuai itu resiko penyebab stunting,” ujarnya kepada Tim Redaksi Kamis, (29/05/2023).  

1.4 Gambar: pada saat Tim redaksi interview dengan Dosen Ahli Gizi Fakultas Ilmu Kesehatan Unsika Karawang bu (Milliyantri Elvandari)

Menurutnya, pernikahan ibu dari Fikri ketika usia 14 tahun ditambah status gizi Fikri yang belum sesuai, menjadi faktor penyebab Fikri terkena stunting. Menurutnya, di Karawang sendiri terdapat desa-desa yang sedang gencar diberikan program-program guna menurunkan angka stunting. “Ada 16 desa locus stunting di Karawang,” katanya.

Link Florish Kelompok 5 Embed:
<divclass=”flourish-embedflourish-map”datasrc=”visualisation/14140044”><scriptsrc=https://public.flourish.studio/resources/embed.js></script></div>
Berikut Peta 16 desa locus stunting di Karawang: 
https://public.flourish.studio/visualisation/14140044/ 


Penulis : Ester Kirana Sairin, Firda Nurfajriah Putri, Syifa Fauziah Permata Sari